67 Anak Muda Kalbar Kembangkan Inovasi Pencegahan Karhutla
- account_circle Aulia Ramadhani
- calendar_month Kamis, 8 Okt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pontianakdigital.com, Pontianak – Sebanyak 67 anak muda Kalimantan Barat yang tergabung dalam Forest Youthverse Resilience (FYVR) Summit menggagas berbagai inovasi untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta memperkuat pelestarian hutan dan lingkungan. Kementerian Kehutanan memuat informasi tersebut dalam berita yang terbit pada Rabu, 7 Oktober 2026. Para peserta menyampaikan gagasan melalui presentasi inovasi, rencana aksi, dan pembelajaran lapangan.
Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri) dan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Kementerian Kehutanan menyelenggarakan FYVR Summit. Keduanya bekerja sama dengan Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) Wilayah X Pontianak dan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura.
Sebanyak 11 kelompok Genries atau Generasi Pelestari Hutan mempresentasikan inovasi, manfaat, dan rencana aksi mereka. Para peserta juga mengikuti Fireline Experience bersama Manggala Agni Daops Kalimantan VIII/Pontianak.
Melalui kegiatan tersebut, Genries mengenal berbagai peralatan pemadaman dan mengikuti simulasi pemadaman. Mereka juga mempelajari prosedur keselamatan serta pentingnya mencegah api sebelum berkembang menjadi kebakaran.
Pengalaman lapangan itu menunjukkan bahwa pengendalian karhutla tidak cukup hanya dengan menangani api ketika kebakaran terjadi. Pencegahan juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak sejak dini.
Plt. Kepala BPHL Wilayah X Pontianak, Irwan Instanto Purwadi Damaryono, mengatakan generasi muda memiliki peran penting dalam memperluas gerakan pencegahan karhutla di Kalimantan Barat.
“Pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk generasi muda. Melalui Forest Youthverse Resilience, kami berharap Genries mampu membawa gagasan, kreativitas, dan cara-cara baru untuk ikut mencegah karhutla sekaligus menjaga hutan Kalimantan Barat,” ujar Irwan.
Dari proses tersebut, peserta menghasilkan sejumlah inovasi, antara lain Fireguard, Rumah Asap, Sekat Bakar, Kalbar Fireguard “Kemarau Siaga, Gambut Terjaga”, Sigap Rimba, dan SI-GABUS.
Peserta juga menggagas rehabilitasi dan reboisasi, pemanfaatan limbah penggergajian kayu untuk mengurangi pembakaran terbuka, pemberdayaan mangrove berbasis pemuda dan digital, pengelolaan DAS dan air bersih, serta gerakan Satu Orang Satu Pohon.
Kepala Pusgenri Kementerian Kehutanan, Luckmi Purwandari, menegaskan pentingnya pengalaman lapangan agar generasi muda tidak hanya memahami persoalan kehutanan dari ruang kelas atau media.
“Kami ingin generasi muda tidak hanya mengetahui persoalan hutan dan karhutla, tetapi melihat langsung bagaimana tantangan itu dihadapi di lapangan. Dari pengalaman tersebut, mereka belajar membaca persoalan, berdiskusi, dan mencari cara untuk ikut mengambil bagian.”
Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Farah Diba, mendorong Genries untuk berani mencoba dan membangun kolaborasi.
“Jangan takut untuk mencoba, turun ke lapangan, dan membuat sesuatu yang baru. Kalian tidak harus melakukan semuanya sendiri. Bangun kolaborasi dengan kampus, pemerintah, masyarakat, komunitas, dan berbagai pihak agar gagasan dapat terus berkembang,” ujar Farah.
FYVR mengusung tema “Forest Youth for Resilient Forests: Generasi Tangguh Menangani Karhutla, Menguatkan Hutan, Mewujudkan Masa Depan Berkelanjutan”. Melalui kegiatan ini, generasi muda mendapat ruang untuk belajar langsung dari persoalan di lapangan dan mengembangkan gagasan menjadi solusi.
Pusgenri mendorong peserta untuk melanjutkan inovasi yang mereka gagas melalui FYVR. Pengembangan inovasi dilakukan melalui pendampingan dan kolaborasi dengan perguruan tinggi, UPT Kementerian Kehutanan, pemerintah daerah, masyarakat, komunitas, dan mitra lainnya.
- Penulis: Aulia Ramadhani

Saat ini belum ada komentar