Solar Langka, Kapal Kelotok Rasau Jaya–Padang Tikar Mogok Massal
- account_circle Puneo Eka Damatra
- calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pontianakdigital.com, Kubu Raya – Kapal kelotok rute Rasau Jaya–Padang Tikar dan sebaliknya di Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, mengalami mogok massal pada Minggu (17/5). Penghentian operasional tersebut diduga sebagai bentuk protes pengusaha kapal karena kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) solar bersubsidi dengan harga sesuai. Kondisi itu berdampak pada mobilitas masyarakat, distribusi barang, serta aktivitas ekonomi warga yang bergantung pada transportasi air.
Warga Padang Tikar, Mustafa, mengatakan kelangkaan solar membuat biaya operasional kapal meningkat. Di sisi lain, pengusaha kapal tidak dapat sembarangan menaikkan tarif karena dapat berdampak terhadap harga bahan pokok dan kondisi ekonomi masyarakat.
“Mogok massal ini sejarah. Sebelumnya belum pernah terjadi,” kata Mustafa, Minggu (17/5).
Penghentian operasional kapal secara massal juga membuat distribusi barang dan mobilitas warga terganggu. Kondisi tersebut dinilai dapat memicu kenaikan tarif transportasi lain, termasuk speedboat, karena akses menuju wilayah tersebut hanya mengandalkan jalur transportasi air.
“Ini juga bisa memicu kenaikan tarif speedboat bang,” ujar Mustafa, Minggu (17/5).
Mustafa berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mempermudah akses BBM bersubsidi bagi pelaku transportasi air. Menurutnya, kelancaran transportasi menjadi bagian penting dalam menjaga aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah tersebut.
“Kalau transportasi lumpuh, ekonomi warga ikut lumpuh,” pungkasnya.
Camat Batu Ampar, Alfian, mengatakan aksi mogok kerja para pengusaha kapal kelotok dikhawatirkan berdampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Menurutnya, jika tidak segera ditemukan solusi, kondisi tersebut dapat menyebabkan distribusi barang dari Padang Tikar menuju Rasau Jaya hingga Pontianak terganggu.
“Mereka jadinya mogok kerja. Kalau dua sampai tiga hari tidak ada solusi, ekonomi bisa lumpuh,” ungkap Alfian, Minggu (17/5).
Alfian juga mengaku khawatir dengan aksi mogok kapal kelotok tersebut. Pasalnya, aktivitas pelabuhan mulai mengalami penurunan karena tidak ada kapal motor yang berangkat.
“Aktivitas pelabuhan juga mulai lengang karena tidak ada kapal motor yang berangkat,” ungkapnya.
Ia menegaskan, persoalan yang terjadi bukan karena solar kosong. Pengusaha jasa transportasi kapal disebut mengalami kesulitan memperoleh pasokan resmi dengan harga normal.
Untuk mencari solusi, pihak Kecamatan Batu Ampar bersama para pengusaha kapal berencana melakukan audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya.
“Besok kami menghadap Bupati bersama pengusaha dan motoris untuk menyampaikan persoalan ini,” tutupnya.
- Penulis: Puneo Eka Damatra

Saat ini belum ada komentar